Assalammualaikum Wr Wb.
Shaloom.
Om Swastyastu
Nammo Buddhaya

Dikatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Diantara bentuk penghargaan itu ialah memberi gelar Pahlawan Nasional, yang sampai kini berjumlah sekitar 140 orang. 

Selain anugerah gelar di atas, bentuk penghargaan yang lain ialah pemakaian nama tokoh untuk nama jalan, nama kapal, nama bandara seperti Bandara Soekarno-Hatta, Kaisiepo, Hasanuddin dan lain-lain.

HM. Soeharto, Presiden kedua Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mundur dari jabatan Presiden pada tahun 1998, adalah salah satu Pemimpin-Negarawan terbaik Bangsa. Tetapi kontroversi yang dilekatkan pada sosok "The Smiling General", menjadikannya belum mendapatkan gelar Pahlawan hingga sekarang. 

Mari kita baca bersama landasan hukum tentang syarat-syarat menjadi Pahlawan. Dalam Penjelasan Pasal 4 UU No. 20/2009 diterangkan bahwa gelar pahlawan nasional mencakup juga semua jenis gelar yang pernah diberikan sebelumnya, yaitu Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamator, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Ampera. Dalam ketentuan ini, tidak termasuk gelar kehormatan Veteran Republik Indonesia.

Untuk memperoleh gelar sebagai pahlawan nasional, harus memenuhi syarat umum dan syarat khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009, yaitu:

1.    Syarat umum (Pasal 25 UU No. 20/2009):
a.    WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
b.    memiliki integritas moral dan keteladanan;
c.    berjasa terhadap bangsa dan negara;
d.    berkelakuan baik;
e.    setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; dan
f.     tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

2.    Syarat khusus (Pasal 26 UU No. 20/2009) berlaku untuk gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa hidupnya:
a.    pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;
b.    tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan;
c.    melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;
d.    pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;
e.    pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
f.     memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau
g.    melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Adakah syarat-syarat diatas yang tidak dipenuhi oleh seorang Soeharto? Soeharto memimpin Indonesia dalam kurun waktu 32 tahun, itu bukan waktu yang singkat, tetapi tetap saja bagi sebagian orang dan kelompok dianggap belum cukup memenuhi syarat untuk menjadi Pahlawan. 

Ada beberapa versi yang melatar belakangi penolakan gelar Pahlawan bagi Soeharto, ada yang menganggap Soeharto penyebab Indonesia memiliki hutang luar negeri yang membebani anak cucu dan  ada yang menganggap Soeharto melanggar HAM. 

Perjuangan mereka yang tidak menginginkan Soeharto mendapatkan gelar Pahlawan bahkan dilakukan secara konstitusi dengan mengajukan ke Mahkamah Konstitusi untuk pengujian Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tetapi pada tanggal 9 Februari 2012 MK menolak. 
----

Setiap Pemimpin pasti melahirkan rakyat yang mencintainya dan sekaligus rakyat yang membencinya, demikian juga HM. Soeharto. Tidak sedikit yang membenci Soeharto tetapi tidak juga sedikit yang mencintai bahkan memuja Soeharto. 

Dan Soeharto Center menjadi wadah bagi anak bangsa yang mendedikasikan dirinya sebagai pecinta, penerus dan pengembang pemikiran Soeharto. Gelar Pahlawan memang sangat penting, karena Soeharto sangat layak mendapatkannya. Tetapi penghargaan terbaik bagi para pahlawan, terutama para pendiri bangsa ialah meneruskan perjuangan dan cita-cita para pahlawan dalam masalah kebangsaan. 

Sebagai pribadi, Soeharto tentulah bukan pribadi yang sempurna. Sebagai Pemimpin, Soeharto tentulah bukan Pemimpin yang sempurna, tetapi menafikkan jasa Soeharto yang telah memimpin Indonesia selama 32 tahun adalah kecelakaan sejarah. 

Orde lama, orde baru, reformasi adalah era, landasan bernegara dan berkebangsaan tetaplah UUD 1945 dan Pancasila, ketika ada keinginan anak bangsa untuk me-rekonstruksi peradaban Nusantara agar kembali ke UUD 1945 dan Pancasila, bukanlah kembali ke Orde Baru, tetapi kembali ke sebenar-benarnya Indonesia.