MENELUSURI JEJAK PERADABAN MANUSIA

Terdiri dari hampir 20.000 (dua puluh ribu) gugusan pulau dengan lautnya menghubungkan 2 (dua) samudera menjadikan Indonesia sebuah negara dengan garis pantai terpanjang didunia. Belum lagi posisi pada peta dunia Indonesia berada di garis khatulistiwa yang tropis dengan daratan serta lautan yang ideal bagi berkembangnya keanekaragaman hayati tak terbatas. Tak dapat dipungkiri dengan kelimpahan potensi yang dimiliki kawasan Nusantara ini memiliki peran penting dalam perkembangan umat manusia dunia berikut kebudayaan-kebudayaannya.

Pernyataan tersebut bukanlah hal berlebihan mengingat sejarah kebudayaan dunia serta perkembangannya dapat ditelusuri dari jejak arkeologis. Dewasa ini semakin banyak ditemukannya bukti baru arkeologik sehingga membuat sejarawan dunia merekonstruksi ulang teori-teori sejarah yang telah dibuat. Salah satu contoh hal paling menggemparkan ialah lukisan gua Leang-leang di Maros Sulawesi Selatan, menurut para peneliti usia lukisan gua tersebut lebih dari 39.000 tahun. Lukisan dinding gua berupa cap tangan manusia dan babirusa merupakan hewan khas Sulawesi telah mematahkan teori terdahulu mengenai perkembangan kebudayaan manusia terkhusus dalam bidang seni rupa adalah benua Eropa berdasarkan bukti arkeologis lukisan dinding gua Las Caux di Perancis dan El Castillo di Spanyol dengan usia lebih muda 2000 tahun dari lukisan gua Leang-leang.

Peninggalan jejak arkeologi ini memegang peranan penting sebagai bukti keberadaan kebudayaan Nusantara yang orisinil dan tak terbantahkan. Bahkan masih ada puluhan bahkan ratusan gua sejenis di kawasan lain semisal Sulawesi Tenggara yang masih memerlukan penelitian mendalam yang kini keberadaannya terancam karena kurang-nya perhatian pihak pemerintah. 

Bukti lain yang patut dibanggakan bangsa Indonesia adalah ditemukannya lukisan “bermain layang-layang” di gua Liang Kobori Pulau Muna Sulawesi Tenggara dengan estimasi usia tak kurang dari 4000 tahun. Evidensi ini bisa mematahkan teori sejarah mengenai keberadaan layang-layang tertua dunia yang kini dimiliki oleh bangsa Cina. Namun sekali lagi pemerintah kurang memberikan perhatian dalam temuan arkeologik tersebut dan juga budaya membuat layang-layang yang dimiliki penduduk setempat dengan menggunakan bahan daun Kolope/Ubi hutan dapat terancam keberadaannya.

Mengkaji kembali sejarah peradaban Nusantara merupakan titik balik bagi bangsa yang memiliki jatidiri dan kebudayaan. Mungkin masih banyak lagi jejak arkeologis yang masih tersimpan di perut bumi Nusantara mengingat secara geologis Indonesia terletak diantara pertemuan 4 lempeng bumi yaitu Indo-Australia, Eurasia, Filipina dan Fasifik. Hal itu berdampak pada aktifitas vulkanisme, tektonisme bahkan gempa bumi. Tercatat ada lebih kurang 400 gunung api di Indonesia 3 diantaranya sebagai gunung api dengan letusan terdahsyat dunia yaitu Gunung Toba, Gunung Krakatau dan Gunung Tambora.

Pendataan bukti-bukti arkeologik ini penting dalam merekonstruksi kembali sejarah bangsa ini, sebab keberadaan sebuah bangsa tak terlepas dari orisinalitas kebudayaan yang dimilikinya dan dilestarikan hingga generasi ke generasi sehingga bangsa ini tak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Bagi generasi bangsa sendiri pengenalan sejarah perjalanan bangsanya harus diketahui dan dipelajari sebagai bekal membangun bangsa di masa depan.

This entry was posted on 3/10/2015. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Responses are currently closed.